| » Jadwal MotoGP Le Mans, Perancis 2026 « |
|
08 Mei 2026
HEADLINE - MOBIL
Pabrikan Cina Menantang Toyota Pakai Hybrid Konvensional
![]() Pabrikan otomotif Cina mulai memberi perhatian serius pada teknologi hybrid konvensional atau HEV (Hybrid Electric Vehicle) mulai 2026.Suku cadang BMW Sejumlah merek seperti Changan, Geely, dan Chery diketahui tengah menyiapkan sistem serta produk baru di segmen ini, sebagai bagian dari strategi menghadapi persaingan global. Demikian dikutip CarnewsChina, beberapa waktu yang lalu. Langkah ini muncul di tengah dominasi Toyota di pasar hybrid dunia, sementara BYD terus memperluas pengaruhnya melalui kendaraan listrik murni dan plug-in hybrid (PHEV). Di pasar global, performa Toyota di segmen hybrid sepanjang 2025 mencatat penjualan sekitar 11,3 juta unit kendaraan, dengan sekitar 42 % di antaranya merupakan model hybrid atau setara 4,4 juta unit. Kondisi tersebut membuat pabrikan Tiongkok mencari pendekatan berbeda agar tetap kompetitif, salah satunya dengan mengembangkan teknologi HEV yang lebih efisien dan terjangkau. Secara teknis, pendekatan yang digunakan produsen Cina cukup berbeda dibandingkan sistem hybrid milik Toyota. Toyota masih mengandalkan Toyota Hybrid System (THS) berbasis planetary gear yang menghubungkan mesin dan roda secara mekanis. Sistem ini memungkinkan mesin bekerja pada rentang efisiensi optimal, dengan bantuan motor listrik saat diperlukan, sehingga menghasilkan konsumsi bahan bakar yang irit dan karakter berkendara yang halus. Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan dalam hal tenaga listrik murni karena adanya keterkaitan mekanis yang konstan. Sebaliknya, pabrikan Tiongkok cenderung menggunakan arsitektur series-parallel yang dipadukan dengan transmisi hybrid khusus atau Dedicated Hybrid Transmission (DHT). Dalam sistem ini, motor listrik memegang peran lebih dominan, sementara mesin bensin bekerja pada kondisi paling efisien atau bahkan hanya berfungsi sebagai generator. Sebagai contoh, sistem Blue Core HEV dari Changan mengusung konfigurasi dual motor dengan berbagai mode berkendara, mulai mode listrik murni saat kecepatan rendah, kombinasi mesin dan motor saat akselerasi, hingga penggerak langsung mesin saat melaju di kecepatan tinggi. Dari sisi performa, HEV buatan Cina umumnya dibekali motor listrik yang lebih besar, dengan output berkisar antara 130 hingga 180 kW. Hal ini membuat akselerasi terasa lebih responsif dibandingkan sistem hybrid konvensional. Bahkan untuk konsumsi bahan bakar, beberapa model bahkan diklaim mampu mencatat angka sekitar 2 hingga 3 liter per 100 km dalam kondisi tertentu. Salah satu alasan utama peralihan fokus ke HEV adalah struktur biaya. Berbeda dengan mobil listrik murni atau plug-in hybrid yang membutuhkan baterai besar, HEV biasanya hanya menggunakan baterai berkapasitas sekitar 1 hingga 2 kWh. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan PHEV yang berkisar 10 hingga 20 kWh atau EV murni yang bisa mencapai 50 kWh atau lebih. Dengan baterai yang lebih kecil, biaya produksi bisa ditekan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku baterai yang harganya masih fluktuatif. Hal ini menjadi penting di tengah persaingan harga mobil yang semakin ketat di pasar Cina. Simak video berikut : Sumber : avolta.id
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
