|
25 Januari 2026
HEADLINE - MOBIL
Survei Terbaru: Mobil PHEV 80% Lebih Bermasalah Dari ICE
![]() Mobil berjenis plug-in hybrid electric vehicle ( PHEV) menjadi salah satu solusi dari peralihan model konvensional menuju listrik. Kendaraan dengan gabungan mesin bensin dan motor listrik ini, menawarkan efisiensi nahan bakar yang lebih rendah, gas buang lebih kecil, dan kepraktisan dalam mengisi baterai dan jarak tempuh. Namun, sebuah survei terbaru dari Consumer Reports (CR) justru membuka fakta yang mengejutkan soal tingkat keandalan dari model PHEV. Survei keandalan paling baru menunjukan bahwa mobil PHEV, secara umum memiliki masalah seitar 80% lebih banyak dibandingkan model konvensional alias internal combustion engine (ICE). Survei CR ini sendiri melibatkan respons dari sekitar 380.000 pemilik kendaraan di Amerika Serikat, mencakup model dari 2000 hingga 2025, bahkan beberapa model awal 2026. Dalam laporan tersebut, CR menganalisis berbagai jenis masalah yang dilaporkan pemilik, mulai dari isu pada sistem kelistrikan, baterai EV, sistem pengisian daya, hingga gangguan pada komponen konvensional seperti suspensi dan kemudi. Beberapa model yang paling sering mendapat keluhan adalah Ford Escape PHEV, yang menurut survei berada di peringkat teratas PHEV dengan masalah paling banyak. Masalah yang sering muncul termasuk penggantian baterai EV, sistem pendinginan baterai, pengisian daya elektrik, hingga aksesori listrik lainnya. Sejumlah laporan terbaru kembali menyoroti pabrikan besar seperti Stellantis sebagai salah satu pihak yang kerap disebut dalam kasus permasalahan sistem hybrid. Grup ini menaungi model-model populer seperti Jeep Wrangler 4xe dan Grand Cherokee 4xe yang mengusung teknologi plug-in hybrid. Sorotan tersebut muncul seiring meningkatnya keluhan konsumen terkait performa dan keandalan sistem elektrifikasi yang digunakan pada kendaraan tersebut. Model-model PHEV dari Stellantis disebut menghadapi beragam tantangan teknis yang tidak sederhana. Dalam beberapa laporan, masalah yang muncul tidak hanya bersifat minor, melainkan menyentuh aspek fundamental dari sistem hybrid itu sendiri. Kondisi ini membuat sebagian konsumen mempertanyakan kesiapan teknologi PHEV untuk penggunaan jangka panjang, terutama pada kendaraan berukuran besar dan berorientasi performa. Kendala yang dilaporkan pada kendaraan hybrid ini mencakup gangguan pada sistem penggerak listrik hingga integrasi dengan mesin pembakaran internal. Beberapa pengguna mengeluhkan transisi tenaga yang kurang mulus, sementara lainnya mengalami penurunan kinerja yang berdampak pada kenyamanan berkendara. Hal tersebut menegaskan bahwa sistem hybrid memiliki tingkat kompleksitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan mesin konvensional. Selain sistem hybrid secara umum, motor listrik juga menjadi salah satu sumber masalah yang sering dilaporkan. Gangguan pada komponen ini dapat memengaruhi efisiensi kendaraan sekaligus menurunkan performa akselerasi. Pada beberapa kasus, kerusakan motor listrik bahkan berujung pada kebutuhan perbaikan besar, yang tentu berdampak pada biaya kepemilikan kendaraan plug-in hybrid. Masalah lain yang tidak kalah krusial berasal dari baterai bertegangan tinggi yang menjadi jantung teknologi PHEV. Laporan menyebut adanya isu terkait daya tahan, pengisian, hingga manajemen suhu baterai. Komponen ini memiliki peran vital, sehingga gangguan kecil sekalipun dapat memicu masalah berantai pada keseluruhan sistem kendaraan. Berbagai kendala tersebut mengindikasikan bahwa kompleksitas teknologi PHEV masih menjadi tantangan utama bagi pabrikan dan konsumen. Integrasi mesin bensin, motor listrik, dan baterai dalam satu sistem membutuhkan rekayasa yang sangat presisi. Jika tidak ditangani dengan matang, kompleksitas ini justru berpotensi menimbulkan beragam masalah pada model kendaraan plug-in hybrid. Simak video berikut : Sumber : avolta.id
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
