PT. CITRA LODOK LESTARI
24 Januari 2026
HEADLINE - MOBIL
50 Produsen EV Cina Terancam Bangkrut


Dinamika pasar  kendaraan listrik ( EV) di Tiongkok tengah menghadapi tekanan besar jelang 2026. Market insiders memprediksi bahwa permintaan domestik yang melemah, dan berkurangnya dukungan insentif dari Pemerintah membuat sekitar 50 produsen di Negeri Tirai Bambu ini berada di ambang kebangkrutan, atau harus memangkas operasionalnya.

Kondisi ini dianggap sebagai ujian terbesar bagi sektor otomotif elektrifikasi terbesar di dunia. Disitat dari South China Morning Post, penyebab utama dari kondisi tak menentu di Cina ini, adalah melemahnya permintaan pembeli di pasar domestik, sehingga hampir mencapai titik di mana penjualan EV diperkirakan mengalami kontraksi pertama sejak 2020.

Banyak perusahaan kecil yang belum mencapai Break Even Point (BEP) atau titik impas antara pendapatan dan juga biaya yang dikeluarkan, dan enyebabkan para produsen ini menghadapi pilihan sulit, antara menutup pabriknya atau mengurangi skala bisnisnya secara signifikan pada 2026.


Selain faktor permintaan, pengurangan insentif fiskal yang sebelumnya menjadi motor utama pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Cina kini mulai terasa dampaknya. Skema insentif yang selama ini menopang daya beli konsumen secara perlahan dikurangi, sehingga menciptakan tantangan baru bagi produsen maupun calon pembeli. Situasi ini menuntut pelaku industri untuk lebih adaptif dalam menyusun strategi harga dan penawaran produk agar tetap kompetitif.

Pada kondisi terkini, konsumen mobil listrik di Cina masih menikmati pembebasan pajak pembelian sebesar 10 persen. Namun kebijakan tersebut tidak bersifat permanen karena Pemerintah telah menetapkan perubahan bertahap. Mulai Januari 2026, pajak pembelian akan kembali diberlakukan sebesar 5 persen, sebelum akhirnya naik lagi ke tarif normal 10 persen pada tahun 2028, yang berpotensi memengaruhi keputusan pembelian.

Perubahan kebijakan pajak ini membuat pasar menanti kepastian lanjutan terkait subsidi khusus kendaraan listrik. Subsidi senilai sekitar 20.000 yuan atau setara Rp43 juta per unit masih menjadi topik utama pembahasan. Hingga kini, belum ada keputusan resmi apakah insentif tersebut akan diperpanjang atau dihentikan, sehingga menciptakan ketidakpastian bagi konsumen dan produsen menjelang awal tahun depan.

Ketidakjelasan arah subsidi dan pengetatan insentif fiskal semakin memperberat kondisi pasar EV Cina yang sejak lama sudah sangat kompetitif. Pertumbuhan cepat jumlah pemain membuat persaingan tidak lagi hanya soal teknologi, tetapi juga harga. Produsen dituntut untuk menjaga volume penjualan di tengah perubahan kebijakan yang berpotensi menekan minat beli konsumen dalam jangka menengah.

Dalam beberapa tahun terakhir, perang harga menjadi fenomena yang tak terhindarkan di pasar kendaraan listrik Cina. Pabrikan besar seperti BYD, Xpeng, dan NIO terlibat persaingan agresif dengan menurunkan harga demi mempertahankan pangsa pasar. Strategi ini memang mendorong penjualan jangka pendek, tetapi secara bersamaan menggerus margin keuntungan perusahaan secara signifikan.

Banyak produsen kemudian mengandalkan diskon tambahan dan promosi masif untuk menarik konsumen. Namun langkah tersebut semakin dipertanyakan efektivitasnya karena beban finansial yang ditimbulkan kian besar. Tekanan biaya produksi, riset, dan pengembangan teknologi membuat ruang untuk diskon terus menyempit, terutama bagi pemain yang belum mencapai skala ekonomi ideal.

Kondisi pasar yang penuh tekanan ini memaksa industri EV Cina untuk mencari pendekatan baru yang lebih berkelanjutan. Produsen mulai mempertimbangkan diferensiasi produk, efisiensi produksi, serta penguatan layanan purna jual sebagai alternatif perang harga. Dengan insentif yang berkurang dan persaingan yang ketat, kemampuan beradaptasi akan menjadi kunci kelangsungan bisnis ke depan.

Simak video berikut :

Sumber : avolta.id
viewed :: 141
Pasang banner ? hubungi : widipriono@gmail.com

Berita Terkait Lainnya :
© Copyright 2013 motormobile.net