|
30 November 2025
HEADLINE - MOBIL
Jeep Recall Lebih Dari 20 Ribu Unit Wrangler 4xe PHEV
![]() Jeep harus menarik kembali atau recall 24.238 unit Wrangler 4xe PHEV menyusul pembaruan over the air yang gagal, hal tersebut bisa berdampak pada hilangnya daya penggerak. Mengutip dari laman Carscoops, beberapa waktu yang lalu, banyak keluhan dari para pengguna terkait masalah di atas, bahkan ada kendaraan yang tiba-tiba rusak. Menurut laporan yang ada, pembaruan perangkat lunak tersebut dapat menyebabkan adanya kesalahan antara modul dan Hybrid Control Processor. Hal ini dapat mengakibatkan yang terakhir melakukan pengaturan ulang, dapat kehilangan daya saat kendaraan sedang berjalan. Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Amerika Serikat (NHTSA) menghubungi produsen mobil itu setelah menerima lebih dari 200 keluhan dan menemukan masalah serupa yang dilaporkan secara daring. Masalah ini begitu meluas sehingga Transport Canada Defect Complaints juga menghubungi Jeep pada tanggal 14 Oktober. Total ada tujuh laporan dan melihat masalah yang disebutkan di forum. Perusahaan segera mulai menyelidiki masalah tersebut dan menemukan 111 catatan bantuan pelanggan, 69 laporan lapangan, dan 55 insiden lainnya yang berpotensi terkait dengan masalah tersebut, beberapa waktu yang lalu. Solusi untuk menyikapi permasalahan tersebut saat ini masih berada dalam tahap pengembangan yang dilakukan secara bertahap dan terstruktur. Tim teknis terus melakukan evaluasi untuk memastikan setiap langkah yang ditempuh dapat mengatasi risiko kehilangan daya penggerak. Upaya ini mencakup identifikasi akar masalah serta penyesuaian teknologi pendukung agar hasilnya lebih optimal dan aman digunakan. Meskipun pengembangan solusi penuh belum rampung, pihak terkait telah mengambil langkah antisipatif untuk mencegah terjadinya masalah yang lebih serius. Langkah-langkah ini ditujukan agar potensi hilangnya daya penggerak dapat diminimalkan selama proses pengembangan berlangsung. Prioritas utama tetap pada menjaga keselamatan pengguna serta mencegah gangguan operasional yang tidak diinginkan. Tindakan korektif sementara yang diterapkan melibatkan penyesuaian sistem pada komponen tertentu yang berpotensi menyebabkan hilangnya tenaga penggerak. Penyesuaian ini disusun berdasarkan analisis teknis awal yang menunjukkan area mana saja yang perlu distabilkan. Dengan cara ini, pihak pengembang dapat menjaga performa tetap dapat dipakai sambil menunggu solusi permanen selesai diuji. Langkah mitigasi sementara tersebut juga mencakup pemantauan berkala untuk memastikan efektivitas perbaikan yang telah diterapkan. Tim teknis melakukan pengujian langsung pada kondisi nyata untuk melihat bagaimana sistem merespons setelah penyesuaian dilakukan. Observasi ini kemudian digunakan untuk menyempurnakan proses perbaikan lanjutan yang sedang dikembangkan. Selain perbaikan teknis, koordinasi dengan divisi keselamatan dan kualitas juga ditingkatkan untuk memastikan seluruh tindakan sesuai standar operasional. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh agar setiap tahapan pengembangan dan koreksi tidak menimbulkan risiko tambahan. Dengan pendekatan terpadu ini, proses menuju solusi permanen dapat berjalan lebih aman dan lebih terarah. Upaya mencari solusi jangka panjang tetap menjadi fokus utama, dengan menggabungkan data hasil pengujian, masukan teknis, dan analisis risiko. Semua langkah ini dilakukan untuk menghasilkan perbaikan yang benar-benar mampu mencegah hilangnya daya penggerak secara menyeluruh. Dengan demikian, proses pengembangan dapat memberikan jaminan keandalan yang lebih tinggi dan meningkatkan kualitas sistem secara keseluruhan. Sumber : voi.id
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
