|
12 November 2025
HEADLINE - MOBIL
Penjualan Mobil Listrik Di AS Anjlok 60 Persen Pada Oktober Lalu
![]() Penjualan mobil listrik (EV) di Amerika Serikat (AS) turun drastis setelah berakhirnya subsidi Pemerintah sebesar 7.500 dolar AS (Rp124,5 juta). Tanpa insentif ini, harga EV menjadi jauh kurang menarik bagi konsumen. Menurut riset J.D. Power bersama GlobalData, dilansir laman Carscoops, beberapa waktu yang lalu, penjualan ritel EV pada Oktober 2025 diperkirakan hanya mencapai 54.673 unit, turun 43,1 persen dibanding Oktober 2024 (96.085 unit). Pangsa pasarnya juga anjlok dari 8,5 persen menjadi 5,2 persen. Jika dibandingkan September 2025, penurunan ini jauh lebih tajam. Bulan lalu EV mencatat rekor dengan 12,9 persen pangsa pasar atau 136.211 unit. Artinya, penjualan Oktober bisa turun hampir 60 persen hanya dalam sebulan. “Industri otomotif sedang mengalami penyesuaian besar di segmen kendaraan listrik. Koreksi pasar ini menunjukkan bahwa konsumen masih ingin punya pilihan jenis mesin yang beragam,” kata analis J.D. Power, Tyson Jominy. Beberapa produsen seperti Hyundai, GM, dan Tesla berupaya menekan dampak hilangnya subsidi, misalnya dengan memangkas harga atau meluncurkan model yang lebih murah. Tanpa langkah itu, penurunan penjualan kemungkinan akan lebih parah. Meski begitu, para eksekutif otomotif tetap optimistis pasar EV akan stabil dan tumbuh kembali seiring waktu. Penelitian juga menemukan bahwa harga rata-rata mobil baru naik menjadi sekitar 46.057 dolar AS (Rp764,8 juta), atau 1.000 dolar lebih tinggi dari tahun lalu. Rata-rata insentif per kendaraan turun menjadi 2.674 dolar AS atau Rp44,4 juta (sekitar lima persen dari harga jual). Penurunan insentif yang terjadi saat ini sebagian besar disebabkan oleh merosotnya penjualan kendaraan listrik atau EV. Selama ini, model EV biasanya menerima potongan harga yang jauh lebih besar dibandingkan mobil konvensional. Namun, dengan permintaan yang melemah dan penurunan minat konsumen terhadap EV, besarnya potongan itu pun mulai menurun secara signifikan di berbagai pasar utama. Produsen mobil kini mulai menyesuaikan strategi harga mereka untuk mengimbangi penurunan tersebut. Mereka tidak lagi mampu memberikan insentif setinggi sebelumnya karena margin keuntungan semakin tertekan. Perubahan kebijakan ini menandakan adanya pergeseran arah pasar, di mana konsumen kini lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan listrik yang harganya relatif tinggi. Rata-rata diskon untuk mobil listrik kini tercatat mencapai 13.161 dolar AS atau sekitar Rp218,5 juta. Angka ini mencerminkan upaya produsen dalam menutupi hilangnya insentif pajak yang sebelumnya mendukung pembelian EV. Tanpa dukungan pajak tersebut, mereka terpaksa memberikan potongan besar agar tetap bisa menarik perhatian konsumen dan menjaga volume penjualan di tengah penurunan minat pasar. Sementara itu, diskon untuk mobil non-EV justru menurun menjadi 2.423 dolar AS atau sekitar Rp40,2 juta. Penurunan diskon ini secara tak langsung membantu meningkatkan margin keuntungan produsen. Meskipun permintaan terhadap EV melambat, penjualan kendaraan konvensional tetap stabil, sehingga produsen masih mampu mempertahankan profit secara keseluruhan berkat keseimbangan strategi harga tersebut. Sumber : otomotif.antaranews.com
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
