|
19 Februari 2026
HEADLINE - MOBIL
Jerman Mulai Menyambut Mobil Listrik Cina Pakai Subsidi
![]() Pemerintah Jerman kembali meluncurkan program subsidi kendaraan listrik ( EV) dengan anggaran besar mencapai 3 miliar euro atau sekitar Rp51 triliun. Berbeda dari skema sebelumnya, kebijakan yang diumumkan pada 19 Januari 2026 ini tidak lagi membatasi merek mobil berdasarkan negara asal, sehingga pabrikan Cina juga berhak mengajukan subsidi. Mengutip CnEVPost, beberapa waktu yang lalu, program insentif ini dimaksudkan untuk menghidupkan kembali minat membeli kendaraan listrik di pasar Jerman, yang sempat melemah setelah subsidi sebelumnya berakhir pada akhir 2023. Skema terbaru ini akan berlaku hingga 2029 dan mencakup hampir semua model kendaraan listrik baru yang memenuhi syarat. Besaran subsidi yang ditawarkan berkisar antara 1.500 euro hingga 6.000 euro atau setara Rp 29 juta sampai Rp 118 juta per unit, tergantung pada jenis kendaraan dan pendapatan rumah tangga konsumen, engan insentif lebih tinggi untuk pembeli berpenghasilan rendah hingga menengah. Menteri Lingkungan Jerman, Carsten Schneider, menegaskan bahwa Pemerintah tidak melihat bukti adanya “gelombang besar mobil Cina” masuk ke pasar, sehingga tidak perlu memberlakukan pembatasan berdasarkan asal negara. Langkah ini kontras dengan kebijakan di beberapa negara lain di Eropa. Misalnya, Inggris menerapkan aturan yang secara efektif mengecualikan mobil listrik buatan Tiongkok dari program insentifnya, dan Perancis memiliki skema tertentu yang membatasi akses subsidi berdasarkan kriteria lokal. Skema baru ini diperkirakan dapat mendukung pembelian sekitar 800.000 kendaraan listrik hingga tahun 2029. Dengan insentif yang lebih menarik khususnya untuk pembeli berpenghasilan rendah dan menengah, Pemerintah berharap dapat mempercepat penetrasi EV di negara yang menjadi pasar otomotif terbesar di Eropa ini. Namun, keputusan ini juga memicu perdebatan di kalangan pelaku industri otomotif Eropa. Selain tantangan infrastruktur pengisian daya yang masih perlu diperluas, ada kekhawatiran bahwa produk impor yang lebih murah dapat memberikan tekanan kompetitif pada produsen lokal. Sumber : avolta.id
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
