|
07 Januari 2026
HEADLINE - MOBIL
Hasil Studi: Risiko Radiasi Mobil Listrik Terdeteksi Dari Jok
![]() Ketika berbicara soal mobil listrik, isu radiasi sering muncul, dan sebagian orang khawatir baterai besar di bawah bodi bisa memancarkan radiasi berbahaya bagi pengemudi dan penumpang. Namun, penelitian terbaru dari ADAC, klub otomotif terbesar di Jerman, memberikan jawaban yang lebih menenangkan bagi para pengguna. Dalam hasil studi terbaru, yang disitat dari Carscoops, para peneliti memasang boneka atau dummy yang dilengkapi sensor ke dalam 11 mobil listrik, serta beberapa hybrid dan satu mobil bensin konvensional, lalu mengukur paparan medan elektromagnetik (magnetic field) selama berkendara maupun pengisian daya. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat radiasi yang diterima berada jauh di bawah batas aman yang ditetapkan para ilmuwan. Selama uji jalan, memang tercatat lonjakan kecil di medan magnet saat akselerasi keras, pengereman, atau saat komponen listrik aktif. Tapi lonjakan ini terjadi di area kaki (footwell), bukan di area kepala atau tubuh. Artinya, radiasi tersebut nyaris tidak berpengaruh kepada sel, saraf, atau alat pacu jantung. Menariknya, salah satu sumber elektromagnetik tertinggi dalam penelitian bukan berasal dari baterai, motor, atau kabel mobil listrik , melainkan dari fitur kursi pemanas (heated seats). Kondisi ini berlaku tak hanya untuk kendaraan listrik, tetapi juga pada mobil hybrid dan mobil bensin biasa. Saat proses pengisian baterai dilakukan, hasil pengujian menunjukkan temuan yang dinilai positif. Pada pengisian menggunakan arus bolak-balik atau AC, terdeteksi adanya peningkatan medan di area sekitar colokan. Namun demikian, nilai medan tersebut masih berada dalam ambang batas aman yang telah ditetapkan, sehingga tidak menimbulkan risiko berarti bagi pengguna selama proses pengisian berlangsung dalam kondisi normal. Temuan pada pengisian AC memperlihatkan bahwa peningkatan medan lebih terkonsentrasi di titik tertentu, khususnya di sekitar sumber arus. Meski terjadi kenaikan, intensitasnya tetap terkendali dan sesuai standar keselamatan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengisian AC telah dirancang dengan mempertimbangkan faktor keamanan, sehingga pengguna tidak perlu khawatir selama prosedur pengisian dilakukan dengan benar. Pengujian juga menyoroti perbandingan antara pengisian AC dan metode lainnya. Dalam konteks ini, hasil yang diperoleh justru menunjukkan bahwa pengisian cepat arus searah atau DC fast charging menghasilkan medan magnet yang lebih lemah. Temuan ini cukup menarik karena berlawanan dengan anggapan umum bahwa proses pengisian cepat selalu menghasilkan dampak medan yang lebih besar. Pada pengisian cepat DC, distribusi medan magnet cenderung lebih stabil dan tidak terkonsentrasi di satu titik tertentu. Intensitas yang lebih rendah ini menandakan bahwa teknologi DC fast charging memiliki efisiensi sistem yang baik. Dengan demikian, meskipun proses pengisian berlangsung lebih singkat, dampak medan magnet yang dihasilkan tetap terkendali dan berada dalam batas aman. Perbedaan karakteristik medan antara pengisian AC dan DC menunjukkan bahwa jenis arus sangat memengaruhi hasil pengukuran. Pengisian lambat AC cenderung memunculkan medan yang sedikit lebih kuat di area dekat colokan, sedangkan pengisian cepat DC justru menghasilkan medan yang relatif lebih lemah. Hal ini menjadi indikator penting dalam evaluasi teknologi pengisian kendaraan listrik. Secara keseluruhan, hasil pengujian ini memberikan gambaran yang menenangkan bagi pengguna. Baik pengisian AC maupun DC fast charging terbukti berada dalam batas keselamatan yang ditetapkan. Dengan demikian, kedua metode pengisian dapat digunakan tanpa kekhawatiran berlebih, sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan teknologi pengisian baterai terus mengarah pada efisiensi dan keamanan yang lebih baik. Simak video berikut : Sumber : avolta.id
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
