| » Jadwal MotoGP Grand Prix Inggris 2026, Silverstone « |
|
24 Desember 2025
HEADLINE - MOBIL
Industri Otomotif China Tertekan Krisis Produksi Dan Perang Harga
![]() Industri otomotif di China yang sempat dipuji sebagai kekuatan global kini berada dalam kondisi yang genting. Laporan terbaru mengungkap bahwa surplus kapasitas produksi, insentif yang terlalu agresif, dan persaingan harga yang tak terkendali memicu krisis mendalam di sektor otomotif negeri tersebut. Melansir dari Reuters, beberapa waktu yang lalu, masalah utama bermula dari kebijakan industrial yang mendorong produksi kendaraan, terutama kendaraan energi baru (new energy vehicles/NEV), tanpa disesuaikan dengan permintaan konsumen yang realistis. Di mana, kapasitas produksi pabrik mobil di China kini mencapai dua kali lipat dari jumlah kendaraan yang diproduksi tahun lalu, yakni sekitar 27,5 juta unit. Kondisi ini mendorong munculnya praktik tidak lazim dalam distribusi dan penjualan mobil. Banyak dealer menghadapi penumpukan stok hingga sulit menghasilkan laba. Beberapa produsen dan dealer bahkan melakukan registrasi massal dan asuransi mobil baru yang belum terjual agar dapat mencatatnya sebagai “terjual”, kemudian menjual kembali kendaraan tersebut di pasar abu-abu sebagai mobil “bekas” meski odometernya masih nol kilometer. Sebagai contoh, di pinggiran sebuah kota berpenduduk 21 juta jiwa, sebuah showroom di pusat perbelanjaan menawarkan sekitar 5.000 unit mobil dengan diskon besar. Beberapa mobil Audi buatan lokal dijual dengan potongan harga hingga 50 persen, sementara SUV tujuh penumpang dari produsen FAW dilepas dengan harga sekitar Rp364 juta, lebih dari 60 persen di bawah harga aslinya. “Jika Anda berhasil menjual 16 dari 20 unit target bulan itu, lalu apa yang akan dilakukan dengan empat unit sisanya pada hari terakhir bulan?” kata seorang diler. “Menjual mobil itu meskipun dengan harga murah akan membuatnya memenuhi bonus sekitar 80.000 yuan atau sekitar Rp182 juta, dan hampir impas.” Menurut ekonom utama dari The Conference Board China Center Yuhan Zhang, fenomena ini menciptakan lingkaran masalah yang saling memperkuat satu sama lain. “Mereka saling memberi makan, memperkuat satu sama lain, dan ini bisa menjebak pasar dalam lingkaran setan,” ujarnya. Kebijakan Pemerintah lokal turut memperparah situasi. Banyak Pemerintah daerah berlomba menyediakan lahan murah dan subsidi kepada pabrik mobil untuk meningkatkan produksi serta pendapatan pajak, padahal pertumbuhan pasar domestik tidak sebanding dengan peningkatan kapasitas tersebut. "Ketika ada arahan dari Beijing bahwa ini adalah industri strategis, setiap gubernur provinsi menginginkan pabrik mobil. Mereka ingin berada dalam posisi yang baik dengan partai," kata Rupert Mitchell, seorang komentator ekonomi makro yang berbasis di Australia. "Pada akhirnya, yang terjadi adalah sektor otomotif yang ada justru menggandakan investasinya," lanjut pria yang sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan rintisan kendaraan listrik China. Kondisi ini mempersempit ruang bagi produsen untuk beroperasi secara menguntungkan. Dari sekitar 129 merek mobil listrik dan hibrida yang beredar di China, diperkirakan hanya sekitar 15 yang akan bertahan secara finansial hingga 2030. Dalam situasi ini, tekanan juga dialami oleh merek asing yang kehilangan pangsa pasar signifikan. Pangsa pasar merek luar negeri di China turun dari 62 persen pada 2020 menjadi 31 persen dalam tujuh bulan pertama tahun ini. Analis menilai industri otomotif China kini menghadapi tiga tantangan besar, yakni kelebihan kapasitas, persaingan harga yang merusak, dan ketergantungan pada volume produksi ketimbang profitabilitas. Untuk memulihkan kondisi, diperlukan penyesuaian kebijakan industri, restrukturisasi kapasitas, serta penguatan mekanisme pasar yang lebih sehat dan transparan. Sumber : voi.id
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
