| » Jadwal MotoGP Grand Prix Inggris 2026, Silverstone « |
|
19 Desember 2025
HEADLINE - MOBIL
Krisis Industri Otomotif Jerman: Ancaman PHK 186 Ribu
![]() Di tengah transformasi kendaraan listrik yang semakin agresif, ternyata ada tantangan tersendiri bagi industri otomotif Jerman. Menurut sebuah laporan yang dirilis oleh Prognos Research Institute dan Verband der Automobilindustrie (VDA), transformasi kendaraan listrik ini, diperkirakan bakal mengancam sekitar 186 ribu pekerjaan hingga 2035. Berdasarkan data yang dilaporkan media Jerman menunjukkan pengurangan tenaga kerja sudah terjadi di seluruh rantai pasok, mulai dari pembuat mesin konvensional hingga pemasok komponen teknologi tinggi. Studi terbaru oleh EY yang dikutip Autoblog, beberapa waktu yang lalu, mencatat Jerman telah kehilangan hampir 245.000 pekerjaan industri sejak 2019, dengan penurunan paling tajam terjadi di sektor otomotif. Situasi makin mendesak ketika survei VDA terhadap perusahaan menengah otomotif di Jerman, menunjukkan bahwa 80% perusahaan berencana menunda, membatalkan, atau memindahkan investasi ke luar Jerman karena kondisi pasar yang melemah dan birokrasi yang terus menjadi beban. Sebanyak 77 persen perusahaan mengakui bahwa kekurangan pesanan menjadi salah satu tantangan terbesar yang saat ini mereka hadapi. Minimnya permintaan membuat tingkat utilisasi pabrik menurun dan memengaruhi stabilitas operasional. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pendapatan, tetapi juga pada perencanaan produksi jangka menengah, sehingga banyak perusahaan harus meninjau ulang strategi bisnisnya. Kekurangan pesanan ini mencerminkan melemahnya aktivitas industri secara umum. Perusahaan kesulitan menjaga volume produksi agar tetap optimal di tengah pasar yang lesu. Situasi ini memaksa sebagian pelaku industri melakukan penyesuaian, mulai dari pengurangan jam kerja hingga penundaan investasi baru, demi menjaga keberlangsungan usaha dalam iklim bisnis yang penuh ketidakpastian. Selain persoalan permintaan, transformasi struktural menuju kendaraan listrik juga menjadi tekanan tersendiri. Peralihan teknologi ini menuntut investasi besar dan perubahan rantai pasok. Banyak perusahaan belum sepenuhnya siap menghadapi transisi tersebut, sehingga beban biaya meningkat di saat kondisi pasar justru tidak mendukung pertumbuhan penjualan secara signifikan. Tekanan eksternal lainnya datang dari tingginya biaya energi dan tenaga kerja. Kenaikan harga listrik dan upah membuat biaya produksi melonjak, menggerus margin keuntungan. Di saat yang sama, perusahaan harus tetap menjaga daya saing harga, sehingga ruang untuk menaikkan harga jual menjadi sangat terbatas di pasar yang semakin sensitif. Persaingan global turut memperberat situasi, terutama dari produsen China dan Amerika Serikat. Produsen dari kedua negara tersebut dinilai lebih agresif dan efisien, baik dari sisi biaya maupun inovasi. Kondisi ini membuat produsen Eropa menghadapi tantangan ganda, yakni mempertahankan pangsa pasar sekaligus beradaptasi dengan perubahan teknologi. Berbagai tekanan tersebut memunculkan kekhawatiran akan terjadinya deindustrialisasi di Jerman. Negara yang selama ini dikenal sebagai powerhouse manufaktur otomotif Eropa kini menghadapi risiko penurunan kapasitas industri. Jika kondisi ini berlanjut, Jerman dikhawatirkan kehilangan keunggulan tradisionalnya sebagai pusat produksi otomotif di kawasan Eropa. Simak video berikut : Sumber : avolta.id
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
