| » Jadwal MotoGP Grand Prix Inggris 2026, Silverstone « |
|
27 Agustus 2025
HEADLINE - MOBIL
Gaikindo Ingin Adanya Kebijakan Insentif Seperti Masa Pandemi
![]() Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) inginkan adanya peran Pemerintah dalam membantu penjualan kendaraan baru di Indonesia seperti pada masa pandemi yang lalu. Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan hal tersebut merupakan bentuk kewaspadaan terhadap agresifnya Malaysia dalam menjual kendaraan, sehingga memiliki selisih yang tidak terlalu jauh dengan Indonesia pada 2024 yang lalu. “Ini adalah peran Pemerintah yang krusial. Kita harapkan jangka pendeknya, harusnya ada insentif seperti pada waktu pandemi,” kata Kukuh kepada ANTARA di Jakarta. Menurut dia, Malaysia berhasil menjual kendaraan sekitar 816.747 unit pada 2025. Jumlah tersebut tidak terlalu jauh dengan apa yang didapatkan oleh Indonesia. Dalam periode yang sama, Indonesia melalui data yang dibagikan oleh Gaikindo berhasil mencatatkan angka penjualan sebanyak 865.723 unit. Meski begitu, terdapat kabar bahwa Malaysia memiliki kinerja yang cukup positif sehingga mampu menyusul angka penjualan yang dimiliki oleh Indonesia baru-baru ini. Menurut dia, data yang dibagikan oleh ASEAN Automotive Federation (AAF), Indonesia dalam periode Januari sampai dengan Mei 2025, Indonesia masih memimpin. "Dari penjualan bulan Januari sampai Mei 2025, Juli belum keluar datanya. Itu sumber datanya dari AAF, Indonesia masih unggul dibandingkan Malaysia,” ujar dia. Menurut catatan Gaikindo, penjualan semester I 2025, penjualan ritel (dari diler ke konsumen) berhasil mencapai 390.467 unit. Meski demikian, angka tersebut masih kurang positif dibandingkan dengan tahun sebelumnya di periode yang sama. Sementara pada catatan wholesales, yakni distribusi mobil dari pabrik ke diler, Gaikindo mencatat adanya penurunan yang cukup signifikan. Angkanya turun sebesar 8,6 persen sehingga hanya mencapai 374.740 unit. Padahal sebelumnya, jumlah wholesales sempat menyentuh 410.020 unit. Penurunan ini menunjukkan adanya tantangan di sektor distribusi otomotif yang perlu menjadi perhatian serius. Penurunan wholesales tersebut juga dapat menjadi indikasi bahwa daya serap pasar terhadap pasokan dari pabrik sedang melambat. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tren permintaan konsumen, daya beli masyarakat, hingga kebijakan ekonomi yang berlaku. Jika tidak segera diantisipasi, hal ini berpotensi menekan kinerja industri otomotif dalam jangka menengah. Menurut penjelasan lebih lanjut, kondisi tersebut bukan hanya angka statistik, tetapi bisa menjadi sinyal yang cukup mengkhawatirkan. Disebutkan bahwa fenomena ini dapat dianggap sebagai bentuk peringatan bagi Indonesia dalam menjaga daya saing industri otomotifnya. Situasi ini menegaskan bahwa pasar domestik perlu lebih kuat dalam menyerap produk lokal agar industri tetap stabil. Peringatan ini juga semakin penting mengingat perbandingan dengan Malaysia. Dijelaskan bahwa selisih angka antara Indonesia dan Malaysia kini relatif kecil, padahal Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu pasar otomotif terbesar di kawasan. Jika tren ini terus berlanjut, ada potensi posisi Indonesia dalam peta industri otomotif regional bisa terancam oleh kompetitor terdekatnya. Sumber : otomotif.antaranews.com
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
