| » Jadwal MotoGP Grand Prix Inggris 2026, Silverstone « |
|
14 Agustus 2025
HEADLINE - MOBIL
Pakar Pertanyakan Harga LCGC Yang Selalu Naik Setiap Tahun
![]() Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu konsumen otomotif mempertanyakan kenaikan yang dialami oleh kendaraan Low Cost Green Car (LCGC) setiap tahunnya yang mencapai tujuh persen. “Jangan terjebak dengan paradigma harga mobil murah. 2013, LCGC mulai Rp85 juta. Tiap tahun naik tujuh persen. Akar masalahnya itu. Kenapa tiap tahun naik tujuh persen? Apakah gaji kita naik tiap tahun,” kata Yannes Martinus Pasaribu dalam Dialog Industri Otomotif Nasional bertajuk “Perang Harga vs Pembangunan Industri: Siapa Untung, Siapa Tertinggal?” di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, ICE BSD, Tangerang. LCGC yang dikenal sebagai kendaraan berlabel ramah dompet ini hadir pada 2013 yang lalu. Harga awal dari kendaraan LCGC ini, hanya mencapai Rp70 jutaan. Namun saat ini, harga untuk kendaraan LCGC mencapai ratusan juta, atau mulai dari RP138 juta sampai dengan Rp200 jutaan. Sehingga, kendaraan ini tidak lagi bisa dibilang sebagai kendaraan yang ramah dengan dompet. Hadirnya kendaraan tersebut juga sempat menjadi mengangkat penjualan kendaraan bermotor di sektor roda empat. Dimana, Indonesia sempat mengalami kejayaan dengan menembus angka penjualan mencapai lebih dari 1 juta unit secara akumulasi dengan kendaraan jenis lain. “Atau karena harga mobil naik terus 7 persen tiap tahun. Jangan-jangan ada penyampaian informasi yg berbeda?” ujar dia. Sementara itu, Managing Director PT Suzuki Indomobil Motor, Shodiq Wicaksono menjelaskan perihal terjadinya peningkatan sebesar 7 persen di setiap tahunnya yang banyak disebabkan oleh berbagai faktor. “Terkait masalah kenapa naiknya 7 persen, kalau sedikit cerita, faktornya banyak. Sebetulnya kenaikan itu bukan kita yang mau, artinya ketika kita impor ada efek exchange rate fluktuatif, barang yang kita beli lebih mahal karena Rupiah melemah,” jawab Shodiq. Meski Indonesia memiliki kemampuan memproduksi kendaraan di dalam negeri, kenyataannya tidak semua komponen yang dibutuhkan tersedia secara lokal. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan industri pendukung dan rantai pasok yang belum sepenuhnya mandiri dalam menyediakan seluruh kebutuhan komponen otomotif. Kondisi tersebut membuat produsen kendaraan harus mencari solusi untuk memenuhi kekurangan komponen yang tidak bisa diproduksi secara lokal. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mengimpor komponen dari negara lain yang sudah memiliki teknologi dan kapasitas produksi lebih maju di bidang tersebut. Dengan demikian, meskipun kendaraan secara keseluruhan dirakit di Indonesia, sebagian komponen vital tetap bergantung pada pasokan dari luar negeri. Hal ini menjadi tantangan bagi industri otomotif untuk meningkatkan kemandirian produksi dan mengembangkan teknologi yang mampu memenuhi kebutuhan komponen secara mandiri di masa depan. “Dan karena masih sebagian besar material buatan Indonesia dan sebagian besar diimpor itu jadi terkena dampak. Kita beli menggunakan dolar, yen, yuan. Efeknya jadi lebih tinggi dari inflasi yang kita alami. Kita sebagai produsen akhirnya harus membeli mahal komponen tersebut,” kata dia. Sumber : otomotif.antaranews.com
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
