| » Jadwal MotoGP Grand Prix Inggris 2026, Silverstone « |
|
05 Agustus 2025
HEADLINE - MOBIL
Mengapa Kebakaran Mobil Listrik Sulit Dipadamkan?
![]() Meskipun kejadian kebakaran pada mobil listrik tergolong jarang, insiden yang terjadi cenderung menimbulkan tantangan besar bagi tim pemadam. Tidak seperti mobil bermesin pembakaran internal (ICE), mobil listrik memiliki sistem tenaga berbasis baterai lithium-ion yang menyimpan energi besar dan bisa bereaksi ekstrem saat terganggu. Saat kebakaran EV terjadi, proses pemadaman tidak sesederhana menyemprotkan air. Tim damkar bisa menghadapi api yang tak kunjung padam, bahkan berisiko menyala kembali. Perlu pendekatan berbeda dan teknologi baru untuk menangani jenis kebakaran ini. Thermal Runaway: Sumber Api yang Berulang Baterai lithium-ion adalah inti dari sistem tenaga mobil listrik. Ketika mengalami kerusakan, baik karena benturan, cacat produksi, atau pengisian daya yang ekstrem, sel baterai bisa mengalami thermal runaway—reaksi berantai panas yang menyebabkan kebakaran berkelanjutan. Suhu yang dihasilkan dapat mencapai lebih dari 1.000°C, disertai gas beracun dan nyala api mandiri. Thermal runaway bisa berlangsung tanpa membutuhkan oksigen eksternal, sehingga pemadaman dengan metode tradisional sering kali tak memadai. Bahkan setelah api padam di permukaan, panas dalam sel baterai bisa menyebabkan re-ignition. Desain Modular: Keamanan yang Justru Memperumit Paket baterai EV terdiri atas banyak sel dan modul yang terlindungi kompartemen khusus. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keamanan dan isolasi. Namun, saat terbakar, desain ini justru mempersulit proses pendinginan secara menyeluruh. Penghalang antar modul dapat menjebak panas serta gas mudah terbakar, memungkinkan api menyebar perlahan dari satu modul ke modul lainnya. Pemadaman pun memerlukan pendinginan terfokus ke tiap kompartemen—proses yang butuh waktu dan air dalam jumlah besar. Air Tak Selalu Efektif, Busa dan Selimut Api Jadi Alternatif Metode konvensional seperti air, busa, atau powder belum tentu berhasil memadamkan api EV. Air sulit menembus struktur baterai, dan kadang diperlukan puluhan ribu liter untuk pendinginan maksimal. Contohnya, kasus Tesla terbakar di Sacramento, 2022, memerlukan lebih dari 4.500 galon air untuk benar-benar padam. Padahal mobil ICE biasanya hanya membutuhkan beberapa ratus liter. Solusi seperti selimut api khusus baterai dan pemadam berbahan kimia aktif kini dikembangkan untuk mengisolasi sumber panas dan mencegah penyebaran. ![]() Electric cars on fire Emisi Gas Beracun saat Kebakaran EV Kebakaran mobil listrik tidak hanya soal api, tapi juga emisi gas berbahaya. Selama pembakaran baterai lithium-ion, sejumlah gas beracun dilepaskan:
Petugas perlu memakai perlengkapan khusus, termasuk respirator dan alat deteksi gas, agar dapat mendekati area kebakaran EV dengan aman. Protokol Pemadaman Masih Belum Seragam Tidak seperti penanganan kendaraan ICE yang sudah jelas prosedurnya, kebakaran EV masih dalam tahap perumusan standar internasional. Di berbagai negara, metode penanganan berbeda-beda—ada yang mengandalkan volume air besar, ada pula yang menggunakan sistem pendinginan langsung ke sel. Kurangnya panduan universal membuat respon damkar bisa berbeda-beda antar wilayah, bahkan antar pabrikan. Proses pemadaman bisa berlangsung berjam-jam dan butuh perlakuan khusus. Solusi Teknologi dan Pelatihan Damkar yang Diperluas Merespon tantangan ini, pabrikan dan lembaga penelitian mulai mengembangkan sistem keselamatan baru:
Di sisi lain, dinas damkar di berbagai negara termasuk Indonesia mulai melatih petugas untuk memahami struktur baterai, teknik pendinginan titik, penggunaan alat pemadam khusus, dan prosedur karantina kendaraan pasca-kebakaran. Sumber : zigwheels.co.id Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
