| » Jadwal MotoGP Jerez, Spanyol 2026 « |
|
18 November 2025
SPORTS - MOBIL
Jika Gagal Juara F1 2025, Piastri Disarankan Pindah Dari McLaren
![]() Guenther Steiner memperingatkan bahwa jika Oscar Piastri gagal jadi juara Formula 1 2025, ia hanya punya dua opsi: kembali dengan lebih kuat setelah liburan atau meninggalkan McLaren. Oscar Piastri sedang berjuang untuk meraih gelar juara dunia pebalap pertamanya, bersaing dengan rekan setimnya di McLaren, Lando Norris, dan Max Verstappen dari Red Bull. Pebalap asal Australia ini berada di urutan kedua, 24 poin di belakang Norris dan 25 poin di depan Verstappen, dengan tiga putaran tersisa. Membahas tentang kejuaraan pebalap, mantan prinsipal tim Haas, Steiner, berpendapat bahwa jika Piastri tidak memenangi gelar tahun ini, ia harus berkumpul kembali selama liburan musim dingin dan kembali dengan lebih kuat, atau angkat kaki dari tim asal Woking tersebut. "Terutama jika dia tidak memenangi kejuaraan, saya pikir dia memiliki peluang bagus untuk mendapatkan mobil bagus lainnya," kata Steiner kepada The Red Flags Podcast. "Ia adalah pebalap yang baik dan perubahan terkadang bagus. Ia masih cukup muda, ia bisa beradaptasi dengan itu. Ia harus melakukannya dan saya pikir ia akan melakukannya. Itu pendapat saya." Ia menambahkan, "Ia hanya perlu berkumpul kembali selama musim dingin dan kembali lebih kuat dari sebelumnya. Jika tidak, jika dia tidak kembali dengan lebih kuat, saya pikir yang terbaik untuknya adalah dia berganti tim. Namun, ia bisa saja kembali karena saya masih menilainya tinggi." ![]() Oscar Piastri, McLaren, Andrea Kimi Antonelli, Mercedes Piastri harus menemukan peningkatan performa untuk tiga putaran terakhir, karena ia telah gagal meraih podium sejak F1 GP Italia. Tekanan untuk Piastri semakin bertambah dengan adanya Verstappen. Steiner berpendapat bahwa pebalap asal Belanda itu kemungkinan besar akan menyalip Piastri untuk menduduki posisi kedua di klasemen. Mengapa tidak? Dia terus melakukannya, dan pernyataan itu menunjukkan keyakinan penuh terhadap kemampuan Oscar menghadapi tekanan kompetitif. Jika ada anggapan bahwa Oscar sedang hancur secara mental, maka hal itu justru akan membuka peluang bagi Max untuk berada di depannya. Situasi ini menggambarkan betapa rapuhnya dinamika psikologis dalam dunia balap ketika performa sedikit saja menurun. Komentar tersebut menyoroti keyakinan bahwa Max akan mengambil keuntungan jika Oscar benar-benar kehilangan fokus. Persaingan ketat di lintasan menuntut konsistensi tinggi, dan setiap celah dapat dimanfaatkan pebalap lain. Oleh sebab itu, aspek mental menjadi faktor yang kerap menentukan hasil akhir. Dunia balap modern tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga kemampuan menjaga ketenangan dalam tekanan. Dorongan motivasi Max menjadi sorotan, terutama setelah apa yang ditunjukkannya di Brasil. Dalam kondisi kualifikasi buruk, ia tetap tidak menyerah begitu saja. Ia memilih fokus, memperbaiki kekurangan, dan menunjukkan bahwa pebalap yang gigih mampu bangkit dalam situasi sulit. Tekad keras itu membuatnya kembali bersaing dengan sangat kompetitif di hari balapan. Di Brasil, sikapnya memperlihatkan bagaimana kerja keras dapat mengubah hasil akhir. Dengan menyingsingkan lengan baju dan berupaya lebih keras, ia membalikkan keadaan yang buruk menjadi sesuatu yang positif. Akhirnya, ia sukses finis di podium, membuktikan bahwa mental baja serta konsistensi usaha dapat mengalahkan hambatan teknis maupun kesalahan sebelumnya. Sementara itu, Grand Prix Las Vegas akan menjadi pembuka untuk tiga seri terakhir musim ini. Balapan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 20–22 November, dan menjadi panggung penting bagi para pebalap yang masih mengejar posisi puncak. Dengan tensi kompetisi yang semakin tinggi, setiap seri penutup akan berperan besar dalam menentukan arah persaingan musim ini. Sumber : id.motorsport.com
Berita Terkait Lainnya :
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]() |
