12 Juli 2018
HEADLINE MOBIL

Indonesia Belum Siap Mengolah Limbah Baterai Mobil Listrik


Pemerintah tengah menyiapkan peraturan mobil ramah lingkungan diharapkan dengan adanya regulasi tersebut, pasar kendaraan listrik di Indonesia bisa berkembang pesat.

Kendati demikian, kendaraan listrik masih menyisakan masalah, yaitu limbah baterai yang membahayakan bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. Pemerintah pun harus jeli melihat masalah tersebut sebelum kendaraan listrik menyerbu Indonesia. Namun, tidak semuanya berjalan lancar.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan bahwa Pemerintah belum menemukan solusi yang tepat untuk hal itu.


"Kami belum tahu bagaimana itu," kata Harjanto di Kantor Pusat PLN, Jakarta.

Menurut Harjanto, pengolahan limbah baterai menjadi 'pekerjaan rumah' bagi Pemerintah. Perlu diingat, dijelaskan Harjato, tak hanya Indonesia yang masih kebingungan untuk pengolahan limbah baterai. Dikatakan Harjanto, beberapa negara seperti China dan Jepang juga belum menemukan solusinya.

Negara yang menemukan pengolahan limbah baterai yang baik adalah Belgia. Bahkan, Jepang pun disebut Harjanto, memilih mendaur ulang limbah baterainya di Belgia. 

"Makanya tadi saya sampaikan yang mengelola baterai lithium itu setahu saya baru Belgia. Jadi kaya dari Jepang tuh diekspor ke Belgia untuk recycle limbahnya," ucap dia. Ia pun belum dapat memastikan apakah cara tersebut juga akan diterapkan Pemerintah Indonesia. 

"Saya tidak tahu (apakah akan diolah di Belgia atau tidak). Makanya kami akan lihat ini ke depan bagaimana. Waktu itu saya sudah bicara dengan Nissan, Mercedes-Benz tapi mereka belum dapat gambaran untuk mengelola limbah baterai," tegas Harjanto.

Baterai sendiri memang diketahui sebagai salah satu komponen yang harus diperhatikan lantaran jika sudah tak dapat dipakai tidak bisa langsung dibuang. Sebab, jika dibuang di sembarang tempat, kandungan yang ada pada baterai dapat merusak lingkungan.

Hal tersebut juga menjadi tantangan tersendiri, seperti yang diungkapkan oleh Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohanes Nangoi dalam menyambut kendaraan listrik saat ini.

Terlebih, ia mengungkapkan baterai mobil listrik mempunyai ukuran yang cukup besar. "Misalnya saja bus listrik dengan berat tiga ton, nah dua tonnya ya berat baterai," ucap Nangoi.

Sedangkan, Nangoi menambahkan usia baterai kendaraan listrik sangat terbatas. Maksimal usia baterai hanya dapat bertahan selama kurang lebih dua sampai tiga tahun saja. "Makanya pengolahan daur ulang baterai bekas ya perlu," tutup dia. 

Sumber : www.cnnindonesia.com

viewed :: 164
Berita Terkait Lainnya :