20 Juni 2017
TIPS MOBIL

Diffuser Car Audio, Pengacak Back Wave


Pernah mengalami distorsi ketika memutar musik? Kalau iya, bisa jadi itu akibat efek pantulan suara dari sistem audio.Begini penjelasannya. Gelombang suara dari speaker, ada yang langsung sampai ke telinga atau disebut juga direct sound. Tapi ada juga yang memantul dulu ke kaca, plafon, lantai kabin, pintu dan lain-lain, baru setelah itu nyampai ke telinga. Efek ini dinamai harmonics atau pantulan.

Nah, karena memantul dulu, suara tersebut tentunya ketika nyampai ke telinga kita punya jeda sepersekian detik dari suara yang langsung, "Peristiwa inilah yang membuat suara terdistorsi," jelas Andreas Tjahjadi, ST selaku technical director Audio Plus (AP) yang bermarkas di Greenville blok BG-6, Jakbar.

Sebaliknya, lanjut Andreas, suara pantulan yang jarak sampainya berjauhan dengan suara langsung, memberikan efek ambience atau kesan ruang. Kalau dalam kontes sound quality (SQ), kedua efek tadi jelas dapat menurunkan tingkat kejernihan serta detailing suara.

Mengakali hal itu, para instalatur kerap memanfaatkan diffuser atau pengacak gelombang yang ditempatkan pada posisi tertentu. "Biasanya dipasang di belakang speaker seperti di panel pintu, dalam boks subwoofer maupun boks midrange. Ada juga di dasbor," ujar Candra A, dari Mega Audio di Ruko Green Garden, Kedoya, Jakbar.

Fungsinya untuk mengacak suara pantulan yang jarak sampainya berdekatan dengan suara langsung. "Mengacak back wave dari speaker supaya tidak mantul balik ke speakernya," tambah Jhonny, sapaan akrab Candra.

Di pasaran, ada beberapa diffuser yang bisa ditemui. Antara lain STP Crystal yang konon dibuat di Rusia menggunakan teknologi militer, lalu Dhyana Diffuse Tile buatan Cina, Standarplast dari RPM Audio (Rusia) serta Crescendo Diffusor Cone yang merupakan bikinan AP.

Ada juga Vibrasystem yang fungsi utamanya sebagai peredam, namun menurut beberapa pemain car audio bila cara pemasangan dibikin seperti garputala, juga bisa berfungsi sebagai diffuser.

Nah, belum lama ini AP mengembangkan lagi Diffusor Cone-nya. Bila dulu bentuknya cone, kini dirancang berbentuk Hexagon Pyramid. Dinamai Crescendo Diffusor Hexagon Pyramid.

Pengacak gelombang ini ini memiliki ukuran 21,5 cm x 25 cm dan terdiri dari 144 piramid dengan 5 ketinggian yang berbeda. Setiap piramid berbentuk segi 6 (hexagon) dan masing-masing diarsir untuk menambah efek pengacak gelombang.

"Desain ini melibatkan riset bertahun-tahun dan telah kami daftarkan patent-nya (patent pending). Keistimewaan lain dari Crescendo Diffusor Hexagon Pyramid adalah pada bahannya. Bagian surface (permukaan luar) bersifat hard (keras) dengan tujuan agar tidak menyerap atau mengurangi suara 'high' (nada tinggi) seperti diffuser lain pada umumnya," tukas Andreas.

Kekerasan permukaan luar Diffusor Hexagon Pyramid bisa dibuktikan dengan menyentilnya pakai jari tangan. Sebaliknya, di bagian dalam, materialnya bersifat soft (lembek) dengan tujuan untuk menyerap pantulan suara low (nada rendah) yang menimbulkan kesan boomy (gaung). Pembuktiannya adalah dengan menekan piramid sampai amblas ke dasar dan piramid akan rebound kembali ke kondisi semula.

Diffuser ini bisa disusun ke kanan-kiri maupun ke atas-bawah sehingga terlihat rapi tanpa sambungan. "Semakin besar luas permukaan diffusor, maka semakin efektif kinerjanya," imbuhnya.

Terpenting, estetika Diffusor Hexagon Pyramid juga tidak luput dari perhatian. "Ketinggian total hanya 2,2 cm sehingga tidak akan mengganggu fungsional mobil dan warnanya kami buat hitam doff supaya tidak memantulkan cahaya matahari dan tidak mengganggu pandangan saat menyetir mobil," tutupnya.     ..... (w33)

viewed :: 14929
Berita Terkait Lainnya :