16 April 2019
SHOWROOM MOBIL

Modifikasi Mercedes Benz G-Class 280GE 1985


Coba bayangkan sejenak, saat asyik menikmati sedan sambil melaju kencang di jalan bebas hambatan, tiba-tiba nampak jip Mercy tua menempel buntut Anda. Injak gas dalam-dalam, tapi jip Mercy itu masih santai membuntuti. Bikin heran sekaligus kesal kan?

Apalagi kalau sadar yang membuntuti ini adalah Mercedes Benz G-Class 280GE tahun 1985, dengan sosoknya yang sudah buluk. Kalau yang ada di ekor anda itu Mercy G55 AMG, pasti maklum

Ingat film perdana Transformers, saat scene Megan Fox sedang membuka kap mesin Chevrolet Camaro 1977 alias Bumble Bee? Nah, lupakan sejenak adegan yang memamerkan tubuh seksi Megan Fox. Tapi cobalah mengingat cuplikan singkat sosok mesin Bumble Bee, yang terlihat sangat rapi, bersih, dan canggih, bertolak belakang dengan bodi si Camaro. Kira-kira beginilah tampilan G-Class satu ini. Buluk di luar tapi bagus di dalam.

Begitu kap mesin dibuka, ruang mesin sangat bersih. Tidak cuma itu, mesin pun sudah lengkap dengan performance-kit. Pipa turbo berlapis krom meliuk rapi di sekitar mesin, dijamin gak malu-maluin saat buka kap mesin. Intercooler water to air yang menyiratkan level performa yang diusung.

Yup, G-Class 280GE milik Mr.G, pria yang enggan disebutkan jati dirinya ini. Punya tenaga sekitar 280 dk di balik kap mesinnya. Tentu tenaga sebesar ini bukan berasal dari mesin M110E 2800 cc bawaan dari G-Class, yang hanya sebesar 150 dk. Tenaga ini berasal dari mesin Toyota 1JZ-GTE, mesin yang sama digunakan di Toyota Soarer. Populasi Soarer memang tidak banyak di Indonesia, tapi mesinnya memang cukup populer buat pecinta engine swap.

Sebenarnya, pemiliknya ini ganti mesin 1JZ bukan untuk nempelin buntut kendaraan sport. "Tahu sendiri kan mesin bawaan 280GE itu boyo, mumpung ada mesin nganggur, mending dikaryakan dong," jelas pria yang sebenarnya punya bengkel khusus untuk rekan-rekan dekatnya. Toh, tunggangannya ini memang sering digunakan untuk angkut mesin pesanan para customernya. "Minimal mobil saya ini tidak terlalu boyo kalo lagi bawa mesin di belakang," celetuknya.

Kalau mengintip interior di bangku baris ketiga, terlihat bekas-bekas oli menempel di karpet coklat bawaan G-Class, malah beberapa bagian terlihat bekas benda keras di karpet tersebut. "Aduh, bagian belakangnya gak usah difoto ya, dekil! He he he… Habis mau gimana lagi, punya kendaraan yang rada besar cuma ini doang, jadi mau gak mau deh nyemplungin mesin pesenan di sini," jelasnya.

Jadi sudah ada bayangan profile sebenarnya si Mr.G. Biasa menggarap mesin, yang ingin di up-grade ataupun sekedar repair. Jadi mesin ditunggangannya ini bisa sekaligus promosi berjalan untuk rekannya yang ingin ganti mesin.

Namanya juga suka ngoprek mesin, rasanya tidak puas kalau mesin 1JZ miliknya tidak diotak atik. Apalagi pria ramah ini sangat akrab dengan berbagai jenis mesin serta ECU-nya. "Awalnya sih usil saja nih pengen ganti ECU. Nah ... dari situ deh malah ngerembet ke yang lain-lain, sampai akhirnya ganti turbo dan pasang intercooler,".

Ternyata sang Mr.G ini punya bakat dalam hal electronica. Lulusan Mekatronika dari salah satu Universitas swasta, membuat Mr.G punya pengetahuan seputar meknika, elektronika dan informatika. Salah satu ilmu yang sangat terpakai di dunia otomotif, contoh yang dinikmati dari ilmu mekatronika di kendaraan anda adalah sistem ABS, ESP(Electronic Stability Program), dan ABC(Active Body Control).

Tapi, dalam perkuliahan dulu, Mr.G jelas tidak diajarkan cara menyetel otak mesin ini dengan benar. "Kalau cara setting ECU sih ini benar-benar hasil ngulik sendiri. Dan saat itu saya coba pakai ECU aftermarket bikinan MegaSquirt di mesin saya," jelasnya. Memang awalnya butuh waktu untuk mendapatkan settingan yang tepat. Tapi sekarang, Mr.G dapat mengeset MegaSqiurt lebih cepat dibanding anda memasak kikil daging sapi.

Dari situ, dia pun keterusan ngoprek mesin tunggangannya. "Penasaran, pengin pakai turbo lebih besar," celetuknya. Bukannya beli turbo yang sudah jelas produksinya, misalkan Garrett. Pria nyeleneh ini malah beli turbo Made In China. "Ah ... buktinya juga kuat tu saya pakai sampai sekarang, he he he," kekehnya.

Setelah menggunakan boost turbo hingga 1,2 bar. Rasanya mesin sudah harus menggunakan intercooler. "Tadinya sih gak pakai". Intercooler-nya tidak mau pakai yang biasa, Mr.G pun menggunakan intercooler dengan sistem Water To Air. Ini jelas lebih efektif mendinginkan udara panas dari keong turbo yang akan masuk ke mesin.

Menarik bukan kendaraan Mr.G ini, walaupun terlihat buluk luarnya. Tapi punya mesin bertenaga dengan beberapa kit performance yang unik, lebih unik lagi karena semuanya dikerjakan sendiri. Keren!

viewed :: 11466
Berita Terkait Lainnya :